Sejarah Patung Dirgantara Pancoran Jakarta

Sejarah Patung Dirgantara Pancoran Jakarta - Patung pancoran merupakan patung yang sangat populer di Jakarta. Banyak warga Jakarta hanya mengenal nama patung yang berdiri megah di wilayah pancoran sebagai Patung Pancoran, padahal nama sebenarnya  adalah Patung Dirgantara. Patung Pancoran digagas Presiden Soekarno agar ada patung yang menggambarkan kekuatan dan kemegahan dunia penerbangan Indonesia atau kedirgantaraan. Patung ini menggambarkan manusia angkasa yang  memiliki semangat keberanian bangsa Indonesia untuk menjelajah angkasa. Karenanya, Patung  dinamakan oleh Soekarno, "Patung Dirgantara".
Setelah menggagas Patung Dirgantara, Bung Karno mencontohkan dengan tubuhnya bagaiamana seharusnya patung tersebut dibuat. Sebelum maket patung dikerjakan oleh Edhi Sunarso (kelahiran Salatiga, 2 Juli 1932), Bung Karno berkali-kali memperagakan bagaimana bentuk patungnya harus berdiri. Untuk mewujudkan impiannya mendirikan patung Dirgantara, Soekarno ternyata mengeluarkan biaya dari kantong pribadi dengan menjual sebuah mobil pribadinya.
Dahulu mobil presiden bernilai sangat mahal pada zamannya (perbandingan zaman sekarang sama halnya dengan harga mobil Lamborghini Gallardo MurciƩlago LP 670-4 SuperVeloce sekitar 9,5 M). Biaya awal ditanggung oleh Edhi Sunarso, sang pemahat. Bung Karno menjual mobil pribadinya seharga 1 juta rupiah pada waktu itu. Pemerintah sendiri hanya membayar 5 juta rupiah. Sisanya, sebesar 6 juta rupiah, menjadi hutang pemerintah yang sampai saat ini tidak pernah terbayar. Total biaya pembuatan Patung Dirgantara atau Patung Pancoran pada tahun 1964 adalah 12 juta rupiah.
Proses pemasangan Patung Pancoran (Dirgantara) selalu ditunggui oleh Bung Karno, sehingga kehadirannya selalu merepotkan aparat negara yang bertugas menjaga keamanan sang kepala negara. Alat pemasangannya sederhana saja, yaitu dengan menggunakan Derek tarikan tangan. Dikerjakan oleh PN Hutama Karya dengan IR. Sutami sebagai arsitek pelaksana. Patung ini dirancang oleh Edhi Sunarso sekitar tahun 1964 - 1965 dengan bantuan dari Keluarga Arca Yogyakarta. Sedangkan proses pengecorannya dilaksanakan oleh Pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta pimpinan I Gardono. Pengerjaannya sempat mengalami keterlambatan karena peristiwa Gerakan 30 September PKI di tahun 1965.
Patung yang terbuat dari bahan perunggu ini berbobot 11 ton (terbagi dalam potongan-potongan yang masing-masing beratnya 1 ton) dan tinggi 11 meter. Sementara tinggi voetstuk (kaki patung) 27 meter. Walau masih terdapat perdebatan dari masyarakat terhadap makna setiap bentuk patung tersebut, seperti halnya yang masih misteri, yaitu bentuk patung yang menyerupai posisi atlet yang telah melempar cakramnya, tangan kirinya yang menukik ke belakang berposisi seperti memegang piringan, dan lain-lain. Patung ini sebenarnya mempunyai filosofi yang maknanya melambangkan keberanian, kesatriaan dan kedirgantaraan yang didasarkan pada kejujuran, keberanian dan semangat mengabdi. Konon patung ini sengaja dihadapkan ke utara sebagai tujuan untuk menentukan arah.

Selain kemegahan patung pancoran itu, arah penghadapannya ke utara bermakna dalam mata angin sebagai arah menuju ke depan, sehingga diharapkan bahwa Dirgantara Indonesia akan terus maju dan terdepan. Setelah berdirinya patung dirgantara atau sekarang lebih dikenal sebagai patung pancoran, terdengar mitos yang beredar di masyarakat jakarta, antara lain: Konon patung pancoran tidak hanya melambangkan keperkasaan dirgantara tetapi juga sebagai salah satu petunjuk untuk menunjuk sebuah tempat dimana Bung Karno meletakkan harta kekayaannya yang dipercaya dapat melunasi hutang negara. Lokasi yang diperkirakan yaitu Taman Monumen Pahlawan Proklamasi Kemerdekaan Soekarno-Hatta, Kawasan Monas dan Istana Negara, lapangan Banteng, Mesjid Istiqlal, Graha Angkasa Pura, bahkan ada yang berpendapat ditenggelamkan di sebelah utara pantai ancol." Sebagian orang juga memercayai bahwa patung ini menghadap ke sebuah pelabuhan Sunda Kelapa yang merupakan jantung peradaban bangsa indonesia selama dijajah Belanda.[gs]