Perilaku Religi yang Baik

Perilaku Religi yang Baik - Koentjaraningrat menjelaskan bahwa manusia memiliki kepribadian yang beragam. Dikutip dari Koentjaraningrat, kepribadian adalah ciri-ciri watak seseorang individu yang konsisten yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khusus.
Hal ini menjelaskan bahwa setiap manusia akan memiliki karakter yang khas dan jelas berbeda antara manusia satu dengan manusia yang lain. Karakter tersebut akan tercermin seumur hidup dan tidak dapat dikamuflase dengan segala hal untuk menutupinya.
Berkaitan dengan kepribadian tersebut, hak memiliki agama juga berdasarkan atas kepentingan pribadi yang sangat bergantung dengan kepribadian masing-masing orang. Agama tidak dapat dipaksakan untuk dimiliki oleh seseorang. Pada awalnya, ketika masih kecil, manusia hanya mengikuti arus kehidupan yang ada di sekelilingnya.

Namun, ketika manusia telah sampai pada saat dia mampu menentukan jalan hidup dan mengambil keputusan untuk pilihanpilihan hidupnya, agama tidak dapat lagi dipaksakan untuk ditempelkan ke dalam hidup seseorang. Pada saat manusia telah mampu menentukan jalan hidup dengan memilih segala sesuatu sesuai dengan kepribadiannya tersebut, manusia memilih agama sesuai dengan kehendaknya. Pada saat itu pula interpretasi manusia terhadap agama yang dipilihnya akan berjalan sesuai dengan kepribadiannya melakukan persepsi. Sebagaimana yang disampaikan Koentjaraningrat, persepsi adalah suatu istilah psikologi yang dipakai untuk mendeskripsikan suatu pemikiran pada alam sadar (concious) melalui akal manusia guna menyusun dan memproyeksikan suatu lingkungan yang ditangkap oleh alam pikirnya tersebut.
Persepsi manusia terhadap agama yang dianutnya masing-masing individu akan berbeda. Perbedaan tersebut bergantung pada kemampuan manusia memproyeksikan makna agama bagi dirinya. Manusia yang mampu memproyeksikan agama di dalam kehidupannya dengan baik dan tepat, akan dapat menjalani kehidupan dengan baik pula.

Manusia yang memiliki persepsi tepat dan seirama terhadap ajaran agama yang dianutnya, maka ketika menjalani kehidupan pun akan seirama dengan ajaran tersebut. Ajaran agama yang tersebar di seluruh permukaan bumi ini beragam adanya. Namun demikian, manusia memiliki agama bukan berarti mampu pula menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Hal ini tergantung pada persepsinya terhadap agama. Manusia yang memiliki persepsi tepat terhadap suatu agama, ia akan dengan tepat pula menjalankan ritual keagamaannya. Namun, sebaliknya, jika manusia tidak dapat menempatkan persepsinya pada proporsi yang tepat, maka ia akan menyimpang. Persepsi yang menyimpang itu, terkadang dianggap tidak menyimpang oleh manusia yang bersangkutan. Persepsinya dianggap benar, padahal sesungguhnya tidak sesuai dengan yang maksudkan di dalam agama yang dianutnya. Sir James George Frazer mengatakan bahwa agama dilihatnya sebagai sesuatu yang dipakai untuk mengambil hati atau menenangkan kekuatan yang melebihi kekuatan manusia yang mampu mengendalikan kehidupan manusia. Perilaku yang baik ada dalam ajaran agama. Tinggal manusia memberi persepsi yang sebaik-baiknya.[gs]

Related Posts: