Sambutan Rakyat Indonesia terhadap Proklamasi

Sambutan Rakyat Indonesia terhadap Proklamasi Di berbagai tempat, masyarakat dengan dipelopori para pemuda menyelenggarakan rapat dan demonstrasi untuk membulatkan tekad menyambut kemerdekaan. Di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) Jakarta pada tanggal 19 September 1945 dilaksanakan rapat umum yang dipelopori Komite Van Aksi. Lapangan Ikada saat ini terletak di sebelah Selatan Lapangan Monas.
Makna rapat raksasa di lapangan ikada bagi bangsa Indonesia, antara lain sebagai berikut.
  • Rapat tersebut berhasil mempertemukan pemerintah republic Indonesia dengan rakyatnya.
  • Rapat tersebut merupakan perwujudan kewibawaan pemerintah republic Indonesia terhadap rakyatnya.
  • Menambah kepercayaan diri bahwa rakyat Indonesia mampu mengubah nasib dengan kekuatan sendiri.
  • Rakyat mendukung pemerintahan baru yang baru terbentuk. Buktinya, setiap intruksi pimpinan mereka laksanakan.
Tindakan heroik di Surabaya
Para pemuda yang tergabung dalam BKR berhasil merebut kompleks penyimpanan senjata jepang dan pemancar radio Di Embong, Malang. Selain itu terjadi insiden  bendera di Hotel Yamato, Tunjungan Surabaya. Insiden itu terjadi ketika beberapa orang belanda mengibarkan bendera merah putih biru di atap hotel. Tindakan tersebut menimbulkan kemarahan rakyat. Rakyat kemudian menyerbu hotel, menurunkan, dan merobek warna biru bendera itu untuk dikibarkan kembali. Insiden ini terjadi pada tanggal 19 September 1945.
Tindakan heroik di Semarang
Pada tanggal 14 Oktober 1945 para pemuda bermaksud memindahkan 400 orang tawanan Jepang (Veteran Angkatan Laut) dari pabrik gula cepiring  menuju penjara bulu di Semarang. Akan tetapi, ditengah perjalanan para tawanan itu melarikan diri dan bergabung dengan kidobutai di Jatingaleh (Batalyon Setempat Dibawah Pimpinan Mayor Kido).
Situasi bertambah panas dengan desas desus bahwa jepang telah meracuni cadangan air minum penduduk semarang yang ada di candi. Untuk membuktikan kebenaran desas desus tersebut, dr. karyadi sebagai kepala laboratorium pusat rumah sakit pusat (parusara) melakukan pemeriksaan. Namun, yang terjadi dr. karyadi tewas di jalan pandanaran, semarang. Tewasnya dr. Karyadi menimbulkan kemarahan para pemuda Semarang. Pada tanggal 15 0ktober 1945 pasukan kidobutai  melakukan serangan ke kota Semarang  dan dihadapi oleh TKR dan laksar pejuang lainnya. Pertempuran berlangsung selama lima hari dan mereda setelah pimpinan TKR berundingan dengan pasukan jepang. Kedatangan pasukan sekutu di semarang pada tanggal 20 Oktober 1945 juga mempercepat terjadinya gencatan senjata. Pasukan sekutu akhirnya menawan dan melucuti tentara jepang. Akibat pertempueran ini  ribuan pemuda gugur dan ratusan orang jepang tewas.
Untuk mengenang perestiwa itu, di semarang di dirikan tugu muda dan nama Dr. Karyadi diabadikan menjadi nama sebuah Rumah Sakit Umum Di Semarang.
Tindakan heroik di Aceh
Pada tanggal 6 Oktober 1945, para pemuda dari tokoh masyarakat membentuk Angkatan Pemuda Indonesia (API). Penguasaan pemerintah jepang memerintahkan pembubaran organisasi itu dan para pemuda tidak boleh melakukan kegiatan perkumpulan. Atas peringatan jepang itu, para pemuda menolak keras. Anggota API kemudian merebut dan mengambil alih kantor-kantor pemerintahan. Di tempat-tempat yang telah mereka rebut para pemuda mengibarkan bendera merah putih dan berhasil melucuti senjata tentara jepang.
Tindakan heroik di Bali
Pada bulan Agustus 1945,  para pemuda Bali telah membentuk organisasi seperti Angkatan Muda Indonesia (AMI) dan Pemuda Republic Indonesia (PRRI). Upaya perundingan untuk menegakan kedaulatan RI telah mereka upayakan, tetapi pihak jepang selalu menghambat. Atas tindakan tersebut pada tanggal 13 Desember 1945 para pemuda merebut kekuasaan  dari jepang secara serentak, tetapi belum berhasil karena persenjataan jepang masih kuat.
Tindakan heroik di Kalimantan
Rakyat Kalimantan juga berusaha menegakkan kemerdekaan dengan cara mengibarkan bendera Merah Putih, memakai lencana Merah Putih, dan mengadakan rapat-rapat, tetapi kegiatan ini dilarang oleh pasukan Sekutu yang sudah ada di Kalimantan. Rakyat tidak menghiraukan larangan Sekutu, sehingga pada tanggal 14 November 1945 di Balikpapan (Depan Markas Sekutu) berkumpul lebih kurang 8.000 orang dengan membawa bendera Merah Putih.
Tindakan heroik di Palembang
Rakyat Palembang dalam mendukung proklamasi dan menegakkan kedaulatan Negara Indonesia dilakukan dengan jalan mengadakan upacara pengibaran bendera Merah Putih pada tanggal 8 Oktober 1945 yang dipimpin oleh dr.A.K.Gani.
Pada kesempatan itu diumumkan bahwa Sumatra selatan berada dibawah kekuasaan RI. Upaya penegakkan kedaulatan di Sumatra selatan tidak memerlukan kekerasan, karena Jepang berusaha menghindari pertempuran.
Tindakan heroik di Bandung
Para pemuda bergerak untuk merebut untuk merebut Pangkalan Udara Andir (sekarang Bendara Husein Sastranegara) dan gudang senjata dari tangan Jepang.
Tindakan heroik di Makasar
Gubernur Sam Ratulangi menyusun pemerintah pada tanggal 19 Agustus 1945. Sementara itu, para pemuda bergerak untuk merebut gudang-gudang penting seperti stsiun radio dan tangsi polisi.
Tindakan heroik di Sumbawa
Bentrokan fisik antara pemuda dan antara Jepang terjadi di Gempe, Sape, dan Raba.
Tindakan heroik di Sumatra selatan
Pada tanggal 8 Oktober 1945 rakyat mengadakan upacara pengibran bendera Merah Putih. Pada tanggal itu juga diumumkan bahwa Sumatra selatan berada dibawah kekuasaan RI.
Tindakan heroik Lampung
Para pemuda yang tergabung dalam API (Angkatan Pemuda Indonesia) melucuti senjata Jepang di Teluk Betung, Kalianda, dan Menggala.
Tindakan heroik di Solo
Para pemuda melakukan pengepungan markas Kempetai Jepang, sehingga terjadilah pertempuran. Dalam pertempuran itu, seorang pemuda bernama Arifin gugur.
Palagan Ambarawa
Pada tanggal 20 0ktober 1945, tentara sekutu di bawah pimpinan Brigadir Bethellm mendarat di semarang dengan maksud mengurus tawanan perangdan tentara Jepang yang berada di Jawa Tengah. Kedatangan sekutu ini diboncengi oleh NICA. Kedatangan sekutu ini mulanya disambut baik, bahkan Gubernur Jawa Tengah Mr Wongsonegoro menyepekati akan menyediakan bahan makanan dan keperluan lain bagi kelancaran tugas Sekutu, sedang Sekutu berjanji tidak akan mengganggu kedaulatan Republik Indonesia. Namun, ketika pasukan Sekutu dan NICA telah sampai di Ambarawa dan magelang untuk membebasakan para tawanan tentara Belanda, para tawanan tersebut malah dipersenjatai sehingga menimbulkan kemarahan pihak Indonesia. Insiden bersenjata timbul di kota Magelang, hingga terjadi pertempuran. Di Magelang, tentara Sekutu bertindak sebagai penguasa yang mencoba melucuti Tentara Keamanan Rakyat dan membuat kekacauan. TKR Resimen Magelang dipimpin Letkol. M.Sarbini membalas tindakan tersebut dengan mengepung tentara Sekutu dari berbagai penjuru. Namun mereka selamat dari kehancuran berkat campur tangan Presiden Sukarno yang berhasil memenangkan susasana. Kemudian pasukan Sekutu secara diam-diam meninggalkan Kota Magelang menujunke benteng Ambarawa. Akibat peristiwa tersebut, Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan Letkol M. Sarbini segera mengadakan pengejaran terhadap mereka. Gerakan mundur tentara Sekutu tertahan di Desa Jambu karena dihadang oleh pasukan Angkatan Muda di bawah pimpinan Oni Sastrodihardjo yang diperkuat oleh pasukan gabungan dari Ambarawa, Suruh dan Surakarta. Tentara Sekutu kembali dihadang oleh Batalyon 1 Soerjosoempeno di Ngipik. Pada saat pengunduran, tentara Sekutu mencoba menduduki dua desa di sekitar Ambarawa. Pasukan Indonesia di bawah pimpinan Letkol. Isdiman berusaha membebaskan kedua desa tersebut, namun ia keburu gugur terlebaih dahulu. Sejak gugurnya Letkol. Isdiman, komandan Divisi 5 Banyumas, Kol Soedirman merasa kehilangan seorang perwira terbaiknya dan ia langsung turun ke lapangan untuk memimpin pertempuran. Kehadiran Kol Soedirman memberikan napas baru kepada pasukan-pasukan RI. Koordinasi diadakan diantara komando-komando sektor dan pengepungan terhadap musuh semakin ketat. Siasat yang diterapkan adalah serakan pendadakan serentak di semua sektor. Bala bantuan terus mengalir dari Yogyakarta, Solo, Salatiga, Purwokerto, Magelang, Semarang, dll
Tanggal 23 November 1945 ketika matahari mulai terbit, mulailah tembak menembak dengan pasukan sekutu yang bertahan di kompleks gereja dan kerkhop Belanda di Jl. Margo Agoeng. Pasukan Indonesia terdiri dari Yon. Imam Androgi, Yon. Soeharto, dan Yon. Soegang. Tentara Sekutu mengarahkan tawanan-tawanan Jepang dengan diperkuat tanknya, menyusup ke tempat kedudukan indonesia dari arah belakang, karena itu pasukan Indonesia indah ke Bedono.
Setelah bertempur selama empat hari, pada tanggal 15 Desember 1945 pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil merebut Ambarawa dan sekutu dibuat mundur ke Semarang. Kemenangan pertempuran ini kini diabadikan dengan didirikannya Monumen Palagan Ambarawa dan diperingati hari jadi TNI Angkatan Darat atau Hari Juang Kartika
Peristiwa Bandung lautan api
Peristiwa bandun lautan api adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota bandung pada 24 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam sekitar 200.000 penduduk bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara sekutu dan tentara NICA belandauntuk dapat menggunakan kota bandung sebagai markas strategis militer dalam perang kemerdekaan indonesia.
Peristiwa Medan Area
Pada tanggal 9 November 1945, pasukan sekutu di bawah pimpinan brigadril jendral T.E.D. kelly mendarat di sumatra utara yang diikuti oleh pasukan NICA. Pemerintah repuklik indonesia di sumtra utara memperkenangkan mereka untuk menepati beberapa hotel yang terdapat di mota medan. Selanjutnya mereka di tempatkan di Binjai, tanjung lapangan. Sehari setelah mendarat, tim RAPWI mendatangi kamp-kamp tawanan yang ada di medan atas persetujuan gubernur M. Hasan. Kelompok itu langsung di bentuk menjadi medan batalion KNIL. Dengan adanya kekuatan itu,ternyata bekas tawanan menjadi arogan dan sewenag-wenang sehingga memancinng munculnya insiden. Insiden pertama terjadi tanggal 13 oktober 1945 di jalan bali, medan. Insiden itu berawal dari ulah penghuni hotel yang merampas dan menginjak-injak lencana merah putih. Akibatnya hotel itu di serang dan di rusak oleh kalangan pemuda. Dampak dari insiden itu menjalar ke beberapa kota lain seperti peatang siantar dan bras tagi. Pada tanggal 10 oktober 1945 di bentuk TKR sumatra timur dengan pepimpinnya Achmad Tair. Selanjutnya di adakan pemanggilan bekas giugan dan heihi ke sumtara timur. Di samping TKR, terbentuk juga badan-badan perjuangan yang sejak tanggal 15 oktober 1945 menjadi pemuda repuklik indonesia sumtara timur dan kemudian berganti nama menjadi Pesindo.
Sementara iti pada tanggal 1 desember 1945,pihak sekutu inggris memasang papan-papan yang bertuliskan “fixed boundaries medan area” di daerah-daerah pinggiran kota medan. Sejak saat itu nama medan area menjadi terkenal.inggris bersama NICA melakukan aksi terhadap unsur-unsur R.I di medan. Bahkan pada tanggal 10 desember 1945 mereka berusaha menghancurkan konsentrasi TKR di trepes. Aksi tersebut tentu saja mendapat perlawan yang sengit dari pemuda medan.
Dengan terjadinya peristiwa seprti itu, brigadir jendral T.E.D kelly kembali mengancam para pemuda agar menyerahkan senjata yang mereka miliki dan jika tidak akan di tembak mati.
Peristiwa hotel yamato
Insiden perobeka bendera di hotel yamato ini merupakan awal dari rentetan perlawanan yang di lakukan oleh arek-arek suroboyo. Peristiwa ini bermula dari di [asangnya bendera belanda yang dilakukan oleh sekelompok orang yang di komando lamgsung oleh Mr. W.V.Ch ploegman. Peristiwa ini di lakikan sekitar pulul 21:00 pada tanggal 18 oktober 1945.
Pemasangan bendera ini tampaknya tidak di ketahui oleh para pemuda dan tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari pemerintah R.I di surabaya. Meskipun pihak belanda memasang bendera di malam hari, tampaknya usaha itu nihil. Keesokan harinya tanggal 19 oktober 1945 sekelompok pemuda melihat berkibarnya bendera belanda itu, tak kuat menahan amarah. Hanya beberpa jam setelah mereka melihat berkibarnya bendera belanda itu, jalannan sesak oleh segerombolan masa yang marah atas ulah yang di lakukan oleh pemerintah kolonial belanda itu.
Jalan tunjangan yang nerupakan jaln pusat kota itu bagaikan kerimunan semut, banyak dari kalangan pemuda,pelajar,maupun dari golongan dewasa yang berkumpul,guna protes atas ulah yang di lakukanya. Residen sudirman yang merupakan wakil dari keresidenan daerah surabaya itu langsung menemui ploegman dengan di dampongi oleh sidik dan hariono. Mereka bertujuan untuk melakukan perundingan dengan pihak belanda ntuk menurunkan bendera tri warna tersebut. Tampaknya usaha yang dilkukan sudirman sia-sia, ploegman dengan nada keras dan mengangkat senjata revolvernya menjawab ”tentara sekutu telah menang, dan belanda merupakan sekutu,maka sekarang pemerintah hindia belanda berhak atas indonesia! Republik indonesia tidak kami akui”.
Merasa usaha yang di lakukan gagal dengan yang di sertai perasaan amarah yang begitu kuat,sidik dan harianto mengambil langkah yang mengejutkan. Sidik langsung menendang revolver yang di pengang oleh ploegman hingga terpental dan menyebabkan letusan tanpa mengenai korban. Sementara harianto menyeret sudirman dari rauanga tersebut,namun sidik masih terus melakukan pergulatan dengan ploegman dan mencekiknya hingga tewas. Setelah letusan pistol milik poegman tersebut menyebabkan bebrapa sidik hingga tersunggkur ke tanah. Mengetahui kondisi yang sepert ini akhirnya para pemuda yang di luar hotel merengsek masuk ke hotel,hingga perkelahian tak dapat di hindarkan. Sementara itu hariono dengan kusno wibowo di bantu dengan beberapa pemuda melakukan pemanjatan guna menurunkan bendera tri warna tersebut. Setelah berhasil menurunkanya mereka merobek bendera yang bagian biru hingga akhirnya berkibarlah bendera merah putih. Pekik “merdeka” di lontarkan oleh mereka sebagai tanda kehormatan dan kedaulatan dari Indonesia.
Pertempuran lima hari di Semarang
Dengan meyerhnya jepang terhadap sekutu pada tanggal 15 agustus 1945dan di susul dengan di proklamarkan republik indonesia 17 agustus 1945, maka seharusnya tamatlah kekuasaan jepang di indonesia. Dan di tunjuknya Mr wongsonegoro sebagai penguasa republik di jawa tengah dan pusat pemerintahnya di semarang, maka adalah kewajiban pemerintah di jawa tengah mengambil alih kekuasaan yang selama ini di pegang jepang, termasuk bidang pemerintahan, keaamanan, dan ketertibannya. Maka terbentuklah badan keaamanan rakyat (BKR) yang kemudian menjadi tentara keamanan rakyat (TKR).
Di beberapa tempat di jawa tengah telah terjadi pula kegiatan perlicutan senjata jepang tanpa kekerasan antara lain di banyumas, tapi terjadi kekerasan di ibukota semarang. Kido butai (pusat ketentaraan jepang di jatingaleh) nampak tidak memberikan persetujuaanya secara menyeluruh, meskipun di jamin oleh gubernur wonsonegoro, bahwam sejata tersebut tidak untuk melawan jepang. Permintaan yang berulang ulang Cuma menghasilkan senjata yang tak seberapa, dan itu pun snjata-senjata yang agak usang. Kecurigaan BKR dan pemuda semarang semakin bertambah, setelah sekutu mulai mendaratkan pasukannya di pulau jawa.
Pihak indonesia khawatir jepang akan menyerahkan senjata-senjatanya kepada sekutu, dan berpendapat kesempatan memperoleh senjata harus dimanfaatkan sebelum sekutu mendarat di semarang.karna sudah pasti pasukan belanda yang bergabung dengan sekutu akan ikut dalam pendaratan itu yang tujuannya menjajah indonesia lagi. Pertempuran lima hari di semarang ini dimulai menjelang minggu malam tanggal 15 oktober 1945. Keadaan kota semarang sangatlah mencekam apalagi di jalan jalan dan kampung kampung di mana ada pos BKR dan pemuda tampak keaadan siap. Pasukan pemuda terdiri dari beberapa kelompok yaitu BKR, Polisi istimewa,AMRI, AMKA (angkatan muda kereta api) dan organisasi para pemuda lainnya. Dapat pula kita tambahkan di sini, bahwa markas jepang di bantu oleh pasukan jepang sebesar 675 orang,yang mereka dalam perjalanan dari irian ke jakarta,tapi karena persoalan logistik,pasukan ini singgah ke semarang. Pasukan ini merupakan pasukan tempur yang mempunyai pengalaman di medan perang irian. Keaadan kontras sekali, karena para pemuda pejuang kita harus menghadapi pasukan jepang yang berpengalaman tempur dan lebih lengkap persenjataanya , sementara kelompok pasukan pemuda belum pernah bertempur, dan hampir-hampir tidak bersenjata. Juga sebagian besar belum pernah mendapat latihan,kecuali di antaranya pasukan polisi intimewa, anggota BKR, dari ex-PETA dan Heihoyang pernah mendapat pendidikan dan latihan militer, tapi tanpa pengalaman tempur. Pertempuran lima hari di semarang ini diawali dengan berontakan 400 tentara jepang yang bertugas membangun pabrik senjata di cepiring dekat semarang. Pertempuran antara pemberontak jepang melawan pemuda ini berkorban sejak dari cepiring (kl 30 km sebelah barat semarang) hingga jatingaleh yang terletak di bagian atas kota. Di jatingaleh ini pasukan jepang yang dipukul mundur menggabungkan diri dengan pasukan kidobutai yang memang berpangkalan di tempat tersebut.
Suasana kota semarang menjadi panas. Terdengar bahwa pasukan kidobutai jatingaleh akan segera mengadakan serangan balasan terhadap para emuda indonesia. Situasi hangat bertambah panas dengan meluasnya desas-desus yang menggelisahkan masyarakat, bahwa cadangan air minum di candi (Siranda) telah diracuni. Pihak jepang yang disangka telah melakukan peracunan lebih memperuncing keadaan dengan melecuti delapan orang polisi indonesia yang menjaga tempat tersebut untuk menghidarkan peracunan cadangan air  minum itu. Dr. Karyadi, kepala laboratorium pusat rumah sakit rakyat (perusara) ketika mendengar berita ini langsung meluncur ke siranda untuk mengecek kebenarannya. Tetapi beliau tidak pernah sampai tujuan, jenazahnya ditemukan di jalan spandanaran semarang, karena dibunuh tentara jepang (namanya diabadikan menjadi RS di semarang).

Keesokan harinya 15 oktober 1945 jam 03:00 pasukan kidobutai benar-benar melancarkan serangannya ke tengah-tengah kota semarang. Markas BKR kota semarang menepati kompleks bekas sekolah MULO di mugas (di belakang bekas pom bensin pandaran). Dibelakangnya terdapat sebuah bukit rendah dari sinilah di waktu fajar kidobutai melancarkan serangannya mendadak berkas BKR secara tiba-tiba mereka melancarkan serangan dari dua jurusan dengan tembakan mesin gancar, diperkirakan pasukan jepang yang menyerang nerjumlah 400 orang. Setelah memberikan perlawanan setengah jam pimpinan BKR akhirnya menyadari markasnya tak mungkin dapat mempertahankan lagi dan untuk menghindari kepungan tentara jepang, pasukan BKR mengundurkan diri meninggalkan maarkasnya. Pertempuran ini dimulai pada 15 oktober 1945 – 20 oktober 1945.[gs]

Related Posts: