Masa berburu dan mengumpulkan makanan

Masa berburu dan mengumpulkan makanan Masa ini merupakan awal tahapan kehidupan manusia dalam bidang kehidupan sosial ekonomi. Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan menghasilkan alat-alat yang digunakan untuk menopang kehidupannya. Selain itu, pada masa ini menghasilkan pula sistem kepercayaan.
  • Kehidupan sosial-ekonomi. Kehidupan manusia pada masa ini, belum melakukan pengolahan terhadap sumber-sumber daya alam. Ketergantungan manusia terhadap alam sangat tinggi, mereka memakan makanan yang sudah disediakan oleh alam. Cara yang mereka lakukan untuk mendapat makanan yaitu dengan berburu dan mengumpulkan makanan. Berburu dan mengumpulkan makanan merupakan cara yang mereka lakukan untuk mempertahankan hidupnya. Apabila persediaan makanan yang terdapat pada alam di mana mereka tinggal, maka tempat tersebut akan mereka tinggalkan. Oleh sebab itu, kehidupan manusia pada masa ini berpindah-pindah (nomaden), tidak memiliki tempat tinggal. Jenis makanan yang mereka buru adalah binatang di hutan. Selain binatang di hutan, mereka juga di sungai, danau, atau pantai melakukan penangkapan ikan. Hasil buruan baik binatang dari hutan maupun hasil tangkapan ikan, tidak mereka olah menjadi masakan sebagaimana layaknya hidangan makanan sekarang. Ikan atau daging itu, mereka bakar untuk dimakan. Pada masa ini, pengolahan makanan baru sebatas dibakar saja, karena mereka sudah mengenal api. Selain memakan binatang buruan dan ikan, manusia pada masa ini sudah memakan tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan yang mereka makanan pada umumnya berupa umbi-umbian, yang biasanya tumbuh di sekitar tempat tinggal mereka. Tumbuh-tumbuhan itu langsung mereka makan mentahmentah, tidak dimasak dahulu. Mereka belum memiliki kemampuan menanak nasi. Sebagaimana telah dikemukakan, manusia purba hidup secara berkelompok. Hal ini mereka lakukan pula ketika melakukan kegiatan berburu. Mereka berkelompok dengan tujuan demi keamanan terutama dalam menghadapi serangan dari binatang buas. Kalau dengan cara berkelompok perlindungan mereka relatif lebih aman daripada pergi sendiri. Hewan dan makanan yang menjadi sumber penghidupan manusia purba, dicari pada daerah-daerah tertentu. Untuk mendapatkan makanannya baik dari itu hewan maupun tumbuh-tumbuhan, manusia purba hidup pada daerahdaerah tertentu yang memungkinkan mereka mendapatkan makanan. Dengan demikian kegiatan berburu atau mencari makanan dengan cara berpindahpindah, bukan berarti manusia purba ini selalu bepergian seenaknya, dengan tidak menimpati suatu tempat. Mereka tetap menempati suatu daerah tertentu. Kehidupan berburu menyebabkan manusia purba harus hidup berpindahpindah. Mereka belum memiliki rumah sebagai tempat tinggal yang permanen. Tempat yang dijadikan tempat tinggal sementara adalah gua-gua. Manusia purba, memilih tempat tinggal sementara, terutama daerah yang di sekitarnya tersedia makanan. Misalnya mereka tinggal dekat sungai atau pantai yang mudah untuk mencari ikan, atau hutan yang terdapat tumbuh-tumbuhan yang bisa mereka makan atau dapat dijadikan tempat berburu binatang. Dalam berburu binatang, biasanya mereka menyusuri sungai yang dapat dijadikan petunjuk jalan agar tidak tersesat. Sungai mereka susuri dengan cara berjalan kaki, belum menggunakan perahu. Sedangkan di tepian pantai, manusia purba memakan makanan yang terdapat di pantai. Makanan yang mereka makan adalah kerang dan ikan laut. Teknik penangkapan ikan dilakukan dengan alat sederhana, belum menggunakan perahu atau jaring seperti sekarang. Mereka menggunakan tombak atau kail untuk menangkap ikan.
  • Alat-alat yang digunakan. Batu, tulang, dan kayu merupakan bahan-bahan yang digunakan oleh manusia purba untuk membuat alat-alat. Temuan yang dilakukan oleh para ahli, lebih banyak menemukan alat-alat dari batu dan tulang. Hal ini mungkin disebabkan batu dan tulang merupakan bahan yang kuat, tidak mudah lapuk. Sedangkan kayu merupakan bahan yang mudah lapuk, sehingga para ahli tidak terlalu banyak menemukan alat-alat yang terbuat dari kayu. Bentuk alat-alat yang ditemukan pada masa berburu ini masih dalam bentuk sederhana. Batu yang digunakan masih kasar belum halus. Penemuan sejumlah alat dari batu ditemukan oleh von Koeningwald di Pacitan pada tahun 1935. Alat yang ditemukan berupa kapak genggam. Jenis alat ini serupa kapak tetapi tidak bertangkai. Alat ini disebut pula dengan sebutan chopper. Penggunaan alat ini dilakukan dengan cara digenggam. Bentuk kapak ini masih kasar, dan diperkirakan Pithecantrhopus merupakan pendukung kebudayaan kapak genggam. Pendapat ini didasarkan pada lapisan tempat ditemukannya kapak genggam. Kapak ini ditemukan pada lapisan tanah yang sama dengan lapisan tanah pithecanthropus. Kapak genggam ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, antara lain Pacitan, Bali, Flores, Sulawesi Selatan, Kalimantan, dan Jawa Barat (Sukabumi dan Ciamis). Di luar Indonesia, jenis kapak ini ditemukan di Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, Myanmar, dan Pakistan. Sezaman dengan Pithecanthropus, Sinanthropus Pekinensis yang ada di China meninggalkan juga jenis kapak genggam. Di daerah Ngandong dan Sidorejo ditemukan pula alat lainnya yang terbuat dari tulang. Alat dari tulang itu banyak berasal dari tulang binatang hasil buruan. Bagian tulang yang digunakan sebagai alat biasanya bagian tanduk dan kaki. Fungsi dari alat ini dipergunakan untuk mengorek umbi-umbian dari dalam tanah dan mengerat daging binatang. Tanduk atau tulang yang diikatkan pada kayu dapat berfungsi sebagai tumbak untuk berburu binatang atau menangkap ikan. Di daerah lainnya, yaitu Sangiran, Sulawesi Selatan, Maumere, dan Timor ditemukan alat-alat serpih yang dinamakan flakes. Flakes ini sangat kecil sekali dan bentuknya ada yang seperti pisau, gurdi, atau penusuk. Diperkirakan flakes ini digunakan untuk mengupas, memotong, atau menggali makanan. Kalau dikaitkan dengan kehidupan manusia purba, kebudayaan kapak genggam (chopper), alat tulang-tulang, dan flakes ini termasuk pada peninggalan jenis manusia Pihecanthopus Erectus. Manusia jenis ini hidup pada masa Palaeolithikum atau zaman batu tua dengan ciri-ciri kebudayaan yang dihasilkan banyak terbuat dari batu yang masih kasar.
  • Sistem kepercayaan. Pada masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan, sistem kepercayaan pada sesuatu yang luar biasa atau kekuatan di luar kehendak manusia, tampaknya sudah ada. Hal itu dapat diketahui dari sisa-sisa penguburan manusia yang telah meninggal dunia. Dengan demikian, mereka percaya, bahwa ada suatu kehidupan lain setelah mati.[gs]

Related Posts: