Portugis di Maluku

Portugis di Maluku Setelah Portugis menyadari bahwa penghasil rempah-rempaah bukanlah Malaka melainkan Maluku. Atas dasar kenyataan itu Portugis berlayar ke Maluku dan berupaya menanamkan pengaruhnya melalui persekutuan dengan Ternate. Atas persetujuan Sultan Ternate, pada tahun 1522 Portugis membangun sebuah benteng di sana. Pada awalnya persekutuan itu berjalan dengan baik. Hubungan itu mulai rusak setelah Portugis melakukan kristenisasi terhadap masyarakat Maluku, serta perilaku orang-orang Portugis sendiri dinilai tidak sopan. Akan tetapi karena kekuatan kerajaan Ternate ternyata tidak cukup kuat untuk mengusir orang-orang Portugis. Akibatnya yang terjadi menjadi kebalikannya, justru sultan Ternate, Tabariji diturunkan dari singgasananya oleh Portugis lalu dibuang ke Goa, India. Sekitar empat puluh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1575 giliran Portugis yang diusir oleh sultan Ternate, Baabullah (1570-1583). Dari Ternate orang-orang Portugis pindah ke Tidore dan membangun sebuah benteng di sana.
Meskipun gerakan kristenisasi tidak lagi sepenuhnya dijalankan oleh ‘pemerintah’ Portugis, namun tidak berarti upaya kristenisasi sama sekali berhenti. Karena masih ada orang Eropa yang meneruskan kegiatan itu di Perdagangan Portugis pada dasarnya bersifat semi-feodal dan terikat oleh raja Portugis beserta politiknya. Perdagangan resmi Portugis dapat dikatakan sebagai contoh dari seorang raja Eropah yang berdagang. Karena itu banyak yang menilai organisasi perdagangannya kurang efisien. Para pejabatnya di Asia bukanlah saudagar melainkan hidalgo’s yang lebih menyukai perampokan daripada perdagangan resmi. Apalagi pada waktu itu bagi seorang prajurit, perampokan merupakan hak penakluk dari pihak yang menang perang, sehingga perampokan dianggap terhormat.[am]