Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya Menurut sejumlah ahli, seperti Coedes, K.A. Nilakanta Sastri, R. Ng. Poerbatjaraka, R.B. Slamet Muljana, O.W. Wolters dan B. Bronson, Kerajaan Sriwijaya berpusat di pantai timur Sumatera Selatan, tepatnya di Palembang. Sementara itu, terdapat ahli lain yang menyebutkan bahwa Palembang bukan merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan hasil penelitan J.L. Moens, menyebutkan pusat Kerajaan Sriwijaya mula-mula di Kedah, kemudian pindah ke daerah Muara Takus. Menurut Soekmono, pusat Kerajaan Sriwijaya adalah Jambi. Ahli lahirnya, Boechari menyebutkan bahwa Ibu Kota Sriwijaya ada di daerah Batang Kuantan, sebelum 682 M. Sesudah itu, ibu kota berpindah ke Mukha Upang di daerah Palembang. Pendapat terakhir mengenai itu datang dari Chan Chirayu Rajani yang menyebut Chaiya di Thailand sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya. Ia mendasarkan pendapatnya pada sejumlah sumber sejarah yang tertulis dalam bahasa Thai.
Sumber Sejarah
Melihat asalnya, sumber sejarah yang menyatakan keberadaan Kerajaan Sriwijaya sangat kaya. Sumber sejarah yang berupa prasasti, selain ditemukan di dalam negeri (Sumatera) juga ditemukan di India. Sumber sejarah lainnya yang berupa catatan perjalanan diperoleh dari Arab, India, dan Cina. Berikut ini adalah rinciannya.
Prasasti. Prasasti yang diperoleh di dalam negeri, terutama Sumatera adalah sebagai berikut.
  • Prasasti Kedukan Bukit. Ditemukan di Kedukan Bukit di tepi Sungai Tatang, dekat Palembang. Prasasti ini berangka tahun 605 Saka atau 688 M. Isinya menceritakan perjalanan Dapunta Hyang menaklukan suatu daerah atau kerajaan.
  • Prasasti Talang Tuo. Ditemukan di daerah Talang Tuo, dekat Palembang. Berangka tahun 606 Saka atau 684 M. Isinya menceritakan pembuatan taman Srikserta oleh Dapunta Hyang Sri Jayanaga.
  • Prasasti Telaga Batu. Ditemukan di Telaga Batu, dekat Palembang. Tak berangka tahun. Isinya berupa kutukan bagi mereka yang melakukan kejahatan dan tidak taat kepada perintah raja.
  • Prasasti Kota Kapur. Ditemukan di Kota Kapur, Pulau Bangka. Berangka tahun 686 M. Isinya menerangkan bahwa bumi Jawa tidak mau tunduk kepada Sriwijaya.
  • Prasasti Karang Berahi. Ditemukan di daerah Jambi Hulu. Berangka tahun 686 M. Isinya terutama mengenai permintaan kepada para dewa yang menjaga kedatuan Sriwijaya untuk menghukum setiap orang yang bermaksud jahat dan mendurhakai terhadap kekuasaan Sriwijaya.
  • Prasasti Palas Pasemah. Ditemukan di Palas Pasemah, Lampung Selatan. Prasasti ini menyebutkan didudukinya daerah Lampung Selatan oleh Sriwijaya pada akhir abad ke-7 Masehi.
Adapun prasasti yang ditemukan di luar negeri adalah sebagai berikut.
  • Prasasti Ligor (Malaysia). Tempat ditemukan prasasti ini adalah di daerah Ligor Semenanjung Malaya. Berangka tahun 775 Masehi. Isinya menerangkan bahwa Kerajaan Sriwijaya (Sumatera) mendirikan sebuah pangkalan di Semenanjung Malaya, daerah Ligor untuk mengawasi pelayaran perdagangan di Selat Malaka.
  • Prasasti Nalanda (India). Prasasti Nalanda ditemukan di Nalanda, India berasal dari abad ke-9 Masehi. Prasasti ini menceritakan tentang pembangunan wihara di India oleh Raja Balaputradewa (Raja Sriwijaya) untuk kepentingan para peziarah dari Sriwijaya.
Berita Asing. Berita asing yang menjadi sumber sejarah mengenai keberadaan Kerajaan Sriwijaya adalah sebagai berikut.
  • Berita Arab. Berita Arab diperoleh dari Ibn Hordadzbeh (844-848 M), Sulayman (851 M), Ibn Al-Fakih (902 M), Ibn Rosteh (903 M), dan Abu Zayd (916 M). Mereka adalah para pedagang Arab yang menceritakan pengalamannya masing-masing mengenai keberadaan Sriwijaya beserta barang dagangan yang diperjualbelikan pada masanya.
  • Berita Cina. Berita Cina yang menerangkan keberadaan Sriwijaya, terutama berasal dari kitab sejarah Dinasti Sung dan Ming. Dalam kitab tersebut disebutkan nama-nama Raja Sriwijaya dalam lafal Cina serta menerangkan hubungan yang erat antara kedua kerajaan. Hubungan itu ditandai dengan saling mengirimkan utusan satu sama lain serta adanya hubungan dagang dan keagamaan.
  • Berita India. Prasasti Nalanda adalah sumber utama yang menjadi rujukan tentang adanya Kerajaan Sriwijaya yang diperoleh dari India. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan dengan raja-raja di India, seperti raja dari Kerajaan Nalanda dan Cholamandala. Kerajaan Cholamandala kemudian memerangi Sriwijaya karena hendak menguasai Selat Malaka.
Kehidupan Politik
Dalam catatan sejarah Indonesia, Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan terbesar pertama yang memiliki pengaruh kuat di Asia Tenggara. Sriwijaya menguasai dan mengontrol seluruh jalur perdagangan di Asia Tenggara, baik yang melalui Selat Sunda, Malaka, Karimata, dan Tanah Genting Kra. Di samping itu, Sriwijaya juga berhasil menguasai daerah Indonesia sebelah barat, Semenanjung Melayu, dan bagian selatan Filipina. Oleh karena itu, Sriwijaya disebut juga Kerajaan Thelasocrasi, yakni kerajaan yang berhasil menguasai pulau-pulau di sekitarnya.
Kebesaran Sriwijaya seperti yang pernah diceritakan para penulis Arab dan Cina itu tak pernah lengkap dan utuh. Raja-raja yang pernah memerintah di sana hanya diketahui tiga nama saja. Sementara itu, bukti-bukti sejarah menunjukkan Kerajaan Sriwijaya berusia cukup panjang, sejak abad ke-7 hingga abad ke-14. Ketiga nama raja itu ialah Raja Dapunta Hyang, Raja Balaputradewa, dan Raja Sanggrama Wijayattunggawarman.
Setelah itu, nama Sriwijaya tenggelam. Selanjutnya, penjelasan mengenai Sriwijaya diperoleh dari sumber yang berasal dari tahun 1477. Penjelasan itu menerangkan bahwa Raja Majapahit mengirimkan tentaranya untuk menaklukan raja-raja Sumatera yang memberontak terhadap kekuasaan Majapahit. Salah satu di antaranya ialah Raja Sriwijaya. Dengan ditaklukannya Kerajaan Sriwijaya oleh Majapahit maka berakhirlah riwayat kerajaan itu.
Raja-raja yang berhasil diketahui pernah memerintah Kerajaan Sriwijaya diantaranya sebagai berikut :
  • Raja Dapunta Hyang. Berita mengenai raja ini diketahui melalui Prasasti Kedukan Bukit (683 M). Pada masa pemerintahannya, Raja Dapunta Hyang telah berhasil memeperluas wilayak kekuasaannya sampai ke wilayah Jambi, yaitu dengan menduduki daerah Minangatamwan. Daerah ini memiliki arti yang sangat strategis dalam bidang perekonomian, karena daerah ini dekat dengan jalur perhubungan pelayaran perdagangan di Selat Malaka. Sejak awal pemerintahannya, Raja Dapunta Hyang telah mencita-citakan agar Kerajaan Sriwijaya menjadi Kerajaan Maritim.
  • Raja Balaputra Dewa. Pada awalnya, Raja Balaputra Dewa adalah raja dari kerajaan Syailendra (di Jawa Tengah). Ketika terjadi perang saudara di Kerajaan Syailendra antara Balaputra Dewa dan Pramodhawardani (kakaknya) yang dibantu oleh Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya), Balaputra Dewa mengalami kekalahan. Akibat kekalahan itu, Raja Balaputra Dewa lari ke Sriwijaya. Di Kerajaan Sriwijaya berkuasa Raja Dharma Setru (kakek dari Raja Balaputra Dewa) yang tidak memiliki keturunan, sehingga kedatangan Raja Balaputra Dewa di Kerajaan Sriwijaya disambut baik. Kemudian, ia diangkat menjadi raja. Pada masa pemerintahan Raja Balaputra Dewa, Kerajaan Sriwijaya berkembang semakin pesat. Raja Balaputra Dewa meningkatkan kegiatan pelayaran dan perdagangan rakyat Sriwijaya. Di samping itu, Raja Balaputra Dewa menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan yang berada di luar wilayah Indonesia, terutama dengan kerajaan-kerajaan yang berada di India, seperti Kerajaan Benggala (Nalanda) maupun Kerajaan Chola. Bahkan pada masa pemerintahannya, kerajaan Sriwijaya menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama Budha di Asia Tenggara.
  • Raja Sanggrama Wijayattunggawarman. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Sriwijaya mendapat ancaman dari Kerajaan Chola. Di bawah pemerintahan Raja Rajendra Chola, Kerajaan Chola melakukan serangan dan berhasil merebut Kerajaan Sriwijaya. Raja Sriwijaya yang bernama Sanggrama Wijayattunggawarman berhasil ditawan. Namun pada masa pemerintahan Raja Kulotungga I di Kerajaan Cho, Raja Sanggrama Wijayattunggawarman dibebaskan kembali.
Kehidupan Sosial
Dari berbagai sumber sejarah seperti diungkap sebelumnya, dapatlah ditafsirkan bahwa kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Sriwijaya mengalami dinamika yang tinggi. Ada saatnya ketika rakyat terlibat dalam berbagai penaklukkan dan perluasan wilayah Sriwijaya. Kemudian, masa ketika masyarakat menikmati suasana yang tenang. Terakhir, sebuah masa ketika masyarakat Sriwijaya mengalami goncangan karena sejumlah penyerangan yang dilakukan pesaing-pesaing Sriwijaya, baik yang berasal dari Jawa maupun India. Dalam suasana yang stabil, Sriwijaya dan masyarakatnya tampil menjadi pusat pengajaran Buddha di kawasan Asia Tenggara. Tersebutlah nama-nama guru besar agama Buddha, seperti Dharmapala dan Sakyakirti. Dari situ, jelaslah bagaimana gambaran kehidupan sosial masyarakat Sriwijaya.
Kehidupan Ekonomi
Untuk menjelaskan bagaimana kehidupan ekonomi Sriwijaya, sebaiknya dipahami terlebih dulu posisi geografis Sriwijaya. Secara geografis, Sriwijaya berada di antara dua pusat peradaban Asia, yakni India di barat dan Cina di sebelah timur. Kedua pusat peradaban itu secara intensif melakukan hubungan dagang. Dengan demikian, kawasan Sriwijaya menjadi jalur sekaligus mata rantai yang menghubungkan keduanya. Lambat laun, masyarakat Sriwijaya terlibat dalam hubungan tersebut. Pantai-pantai yang strategis di Selat Malaka sering dijadikan tempat bongkar muat berbagai barang dagangan. Oleh karena itu, tumbuhlah penguasa-penguasa setempat yang kemudian berperan sebagai pedagang. Dalam kaitan itu, hasil bumi dari tanah Sriwijaya semakin menguatkan dugaan bahwa kehidupan ekonomi masyarakat Sriwijaya bertumpu pada kegiatan pelayaran dan perdagangan.
Kehidupan Budaya
Tonggak kehidupan budaya masyakarat Sriwijaya yang sangat dibanggakan adalah pada saat Sriwijaya menjadi pusat pengajaran ajaran Buddha di Asia Tenggara. Para pendeta yang berasal dari wilayah sebelah timur Sriwijaya, seperti Cina dan Tibet banyak yang menetap di Sriwijaya. Tujuan mereka adalah belajar ajaran Buddha sebelum mereka belajar di tanah asal lahirnya ajaran itu (India). Pada tahun 1011– 1023, datang seorang pendeta Buddha dari Tibet untuk memperdalam pengetahuannya tentang agama Buddha di Sriwijaya. Pendeta itu bernama Atisa dan menerima bimbingan langsung dari guru besar agama Buddha di Sriwijaya, yaitu Dharmakitri.
Hal lain yang berkaitan dengan itu ialah mengenai adanya pemberitaan bahwa pada tahun 1006, Raja Sriwijaya, Sanggrama Wijayatunggawarman mendirikan sebuah wihara di India Selatan, yaitu di Nagipattana. Wihara ini dilengkapi dengan asrama yang dikhususkan bagi tempat tinggal para biksu yang berasal dari Sriwijaya yang tengah memperdalam ajaran Buddha di India. Secara budaya, hal ini jelas menunjukkan bahwa raja-raja Sriwijaya memiliki perhatian yang besar pada pengembangan budaya dan pendidikan, khususnya mengenai pendidikan pengajaran agama Buddha.[gs]

Related Posts: