Sejarawan Aliran Rasionalisme

Sejarawan Aliran Rasionalisme - Salah seorang sejarawan terkemuka dari aliran rasionalisme adalah Voltaire (1694-1778) yang semula bernama Francois Arouet. Setelah menyelesaikan studi hukum ia memperluas sendiri studinya , pada bidang sastra, khususnya menjadi penulis pertunjukan tonel, epen (cerita kepahlawanan),  cerita-cerita novel, risalah sastra essays, dan karya-karya historis. Namun demikian akhirnya ia  mencurahkan hampir seluruh hidupnya untuk penelitian dan penulisan sejarah. Salah satu karyanya yang terpenting adalah “Esssay Sur les moeurs et L’esprit des nations’ (adat istiadat dan jiwa bangsa-bangsa).  Karya tersebut membuka pandangan baru orang-orang Eropa terhadap kebudayaan di luar Eropa dan cakrawala yang lebih luas lagi mengenai bangsa-bangsa lain. Sebagai penganut rasionalisme Voltaire bertumpu  kepada manusia sebagai pelaku sejarah dalam mencari fakta-fakta dan menyusunnya menjadi kisah sejarah. 
Sejarawan Aliran Rasionalisme
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa karya Voltaire itu mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
  • Kosmopolitan, yaitu pandangannya yang luas dan tidak terikat pada suatu tempat, bangsa atau suku bangsa tertentu.
  • Universal, yang berarti membicarakan atau membahas manusia secara umum. Gambaran manusia menurut kaum rasionalis (yang sekaligus humanis) adalah bahwa hanya ada satu manusia tanpa perlu membedakan ras maupun kebudayaannya. Kaum rasionalis juga menghendaki agar seluruh umat manusia menjalin suatu persaudaraan yang besar.
  • Karya Voltaire tidak disusun secara kronologis, akan tetapi bersifat tematis, yaitu berisi gambaran gaya hidup atau peradaban manusia yang merupakan trend baru dalam historiografi Eropa pada waktu itu.
  • Bahan-bahan yang dipergunakan untuk menyusun karyanya diperoleh dari karangan atau tulisan-tulisan etnografis, kisah-kisah perjalanan yang dibuat oleh para petualang penjelajah dunia seperti Tome Pires, Pinto, Marcopollo, Baros dan sebagainya. Dengan demikian buku tersebut lebih banyak berisi gambaran atau diskripsi mengenai masyarakat atau suku-suku bangsa yang pernah dikunjungi para petualang seperti Teluk Parsi, Malaka, Cina, Malabar, India dan sebagainya.
 Karya-karya sejarah yang lain dari Voltaire adalah:
  • Histoire de charles XII (1731)
  • Le Siecle de Louis XIV (1751)
  • Histoire de la Guerre de 1741 (1755)
  • Histoire generale depuis Charlemagne jusqu’`a nos jours (1756)
  • Dan yang lebih terkenal adalah “Essai sur les moeurs et l’esprit des nations et sur les principaux faits de l’histoire depuis Charlemagne jusqu’`a Louis XIII
  • Histoire de l’empire de Russie sous Pierre le Grand (1760-1763)
  • Philosophie de l’histoire (1765)
  • Precis du Siecle de Louis XV (1768).
Montesquieu (1689-1758), dilahirkan dengan nama charles-Louis de Secondat di istana La brede di Bordeaux. Di kota ini ia belajar hokum dan sampai tahun 1726 ia memang bekerja sebagai ahli hukum. Ketika pada tahun 1716 ia menjadi anggota Academie di kota kelahirannya, ia mencurahkan karyanya ‘discours de reception’ pada politik orang-orang Romawi mengenai religi. Karya pertamanya yang termasyur adalah Lettres Persanes (1721), tidak berkaitan dengan sejarah. Baru dalam karyanya yang besar dan terkenal yaitu Esprit des lois (1748), diformulasikan mengenai ide ‘esprit général’, merupakan sejarah filsafat yang sangat menarik. Disamping itu karya tersebut juga banyak berisi raia mengenai ilmu politik dan sosiologi. Teorinya yang terkenal mengenai sistem ketatanegaraan adalah Trias Politica, yaitu sistem pembagian/ pemisahan kekuasaan dalam suatu negara demokrasi menajdi 3 yaitu: eksekutif, legislatif dan yudikatif. Sebagai seorang ahli tata negara ajaran-ajarannya banyak dipraktekkan dalam pemerintahan di negara-negara Barat.
Thomas Hobbes, yang juga bisa dikategorikan sebagai ahli tata negara mengajukan suatu pemikiran bagaimana suatu masyarakat itu harus di atur, dan siapa yang harus memegang kekuasaan. Ajarannya yang terkenal adalah “Homo homini lopus”. Dalam hal kekuasaan teori Hobbes cenderung bersifat absolutisme, yaitu bahwa  kekuasaan itu harus dipegang oleh seorang raja yang kuat.
J.J. Rousseau, yang juga bisa dikategorikan sebagai tokoh yang beraliran romantisme. Ia mengemukakan bahwa selain rasio, kekuatan manusia juga terdapat dalam sentimen dan kemauannya. Dalam hal ini ia berbicara mengenai kemauan umum, yang merupakan teori demokrasi. Menurutnya kekuasaan itu sebenarnya pada mulanya terdapat pada setiap individu dalam masyarakat. Akan tetapi oleh karena adanya kemauan bersama akhirnya ditunjuk seorang mandataris untuk memimpin.[am].

Related Posts: