Contoh Metode Penelitian Skripsi Sejarah

Contoh Metode Penelitian Skripsi Sejarah – Pada kesempatan kali ini, akan dibahas sedikti mengenai metode penelitian sejarah beserta contohnya, karena tanpa menggunakan contoh, maka niscaya suatu artikel atau tulisan tidak banyak membantu. Metode penelitian dalam kerangka skripsi sejarah adalah hal yang mutlak harus ada. Olehnya itu situs sejarah sebagai blog yang membahas hal-hal yang berbau sejarah akan berbagi sedikit mengenai contoh metode penelitian skripsi sejarah.
Metode Penelitian
Lokasi Penelitian
Penelitian yang berjudul “KerajaanArungkeke Abad XVII” dilakukan di daerah Kabupaten Jeneponto Kecamatan Arungkeke.
Jenis Penelitian
Penelitian mengenai “Kerajaan Arngkeke Abad XVII”, merupakan suatu penelitian historis karena penelitian ini diarahkan untuk meneliti, mengungkapakan dan menjelaskan peristiwa masa lampau sehingga jelas diarahkan kepada metode sejarah yang bersifat kualitatif. Tujuan dari penilitian historis ini yaitu menemukandan mendeskripsikan secara analisis serta menafsirkan tentang kerajaan Arungkeke. Selain itu penelitian yang saya lakukan terkait dengan kerajaan Arungkekek Abad XVII termasuk dalam penelitian sejarh lokal yang bersifat sosial politik karena dalam penelitian kan dibahas terkait dengan kepemimpianan yang sifatnya politik dan dalampenelitian ini pula akan dibahas mengenai suatu hubungan yang terjalin antara raja dengan rakyat kemudian hubungan sastra kebangsawanan yang bersifat sosial.
Proposal Penelitan Sejarah
Penulisan peristiwa masa lampau dalam bentuk peristiwa atau kisah sejarah yang dapat di pertanggungjawabkan secara ilmiah, harus melalui prosedur kerja sejarah. Pengiasahan masa lampau tidak dapat dikerjakantanpa ada sumber yang menyangkut masa lampau tersebut, sumber yang dimaksud adalah serupa data yang melalui proses analisis menjadi sebuah fakta atau keterangan yang otentik yang berhubungan dengan tema permasalahan, dalam ilmu sejarah dikenal sumber-sumber itu baik tertulis maupun tidak tertulis yang meliputi legenda, folklore, prasasti, monument, alat-alat sejarah, perkakas rumah tangga, dokumen, surat kabar dan surat-surat. Disinilah penulisan peristiwa sejarah memasuki lapangan teknis yaitu : metode sejarah : “ bagaiman menggarap atau mengelola sumber sejarah” (kartodirdjo, 1992:28). Sumber yang disebabkan meliputi sumber primer dan sumber sekunder.
Oleh karena penelitian ini adalah penelitian sejarah, maka dalam penelitian ini menggunakan metode historis, yaitu suatu metode penelitian yang khusus digunakan dalam penelitian sejarah dengan melalui tahapan tertentu. Penerapan metode historis ini menempuh tahapan-tahapan kerja, sebagaimana yang dikemukakan oleh Notosusanto (1971:17) sebagai berikut:
  •  Heuristik, jakni menghimpun djejak-djejak masa lampau.
  • Kritik (sedjarah), jakni menjelediki apakah djejak itu sedjati baik bentuk maupun isinja.
  • Interpretasi, jakni menetapkan makna dan saling berhubungan dari fakta jang diperoleh sedjarah itu.
  • Penjadjian, jakni menjampaikan sintesa jang diperoleh dalam bentuk sebuah kisah.
Sesuai dengan metode historis di atas, maka langkah proses dalam penelitian dan penulisan Skripsi ini adalah sebagai berikut:
Heuristik
Heuristik (Menemukan). Tahapan pertama yaitu mencari dan mengumpulkan sumber yang berhubungan dengan topik yang akan dibahas dalam skripsi ini, yakni “Kerajaan Arungkeke Abad XVII”. Mengumpulkan sumber yang diperlukan dalam penulisan ini merupakan pekerjaan pokok yang dapat dikatakan gampang-gampang susah, sehingga diperlukan kesabaran dari penulis. Menurut Notosusanto (1971:18) heuristic berasal dari bahasa Yunani Heuriskein artinya sama dengan to find yang baerati tidak hanya menemukan, tetapi mencari dahulu. Pada tahap ini, kegiatan diarahkan pada penjajakan, pencarian, dan pengumpulan sumber-sumber yang akan diteliti, baik yang terdapat dilokasi penelitian, temuan benda maupun sumber lisan.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk mendapatkan data-data dan informasi yang dibutuhkan untuk menyusun kajian ini yakni:
Penelitian Lapangan
Penelitian lapangan adalah suatu penelitian yang dilakukan oleh penulis dengan secara langsung ke lapangan untuk meneliti serta mencari data-data dan informasi yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti, agar dapat dibahas berdasarkan informasi atau bukti data-data yang ditemukan. Ada 2 teknik yang digunakan penulis untuk mengumpulkan data-data dan informasi penelitian lapangan, yaitu:
  • Pengamatan (observasi) adalah suatu teknik yang dilakukan penulis untuk mengamati secara langsung objek yang berkaitan dengan Kerajaan Arungkeke dan hasil-hasil peninggalan Kerajaan Arungkeke abad XVII. 
  • Tradisi lisan, adalah suatu tehnik yang dilakukan dalam pengumpulan data dengan mencermati penuturan-penuturan informasi yang sifatnya turun-temurun dan dapat memberikan keterangan terhadap masalah yang akan diteliti untuk mewujudkan fakta-fakta dalam rangka penyusunan sejarah lokal tersebut (Widja, 1991:61), misalnya dengan mengadakan wawancara langsung dengan orang-orang yang mengetahui tentang hal-hal yang berkenaan dengan Kerajaan Arungkeke pada Abad XVII.
Kritik Sumber
Pada tahap ini, sumber yang telah dikumpulkan pada kegiatan heuristik yang berupa; buku-buku yang relevan dengan pembahasan tentang Kerajaan Arungkeke, maupun hasil temuan dilapangan tentang bukti-bukti dilapangan tentang keeksisan Kerajaan Arungkeke pada masa lalu. Setelah bukti itu atau data itu ditemukan maka dilakukan penyaringan atau penyeleksian dengan mengacu pada prosedur yang ada, yakni sumber yang faktual dan orisinalnya terjamin.
Tahapan kritik ini tentu saja memiliki tujuan tertentu dalam pelaksanaannya. Salah satu tujuan yang dapat diperoleh dalam tahapan kritik ini adalah otentitas (authenticity). Menurut Lucey (1984:47) dalam Sjamsuddin (2007:134) dikatakan bahwa:
Sebuah sumber sejarah (catatan harian, surat, buku) adalah otentik atau asli jika itu benar-benar produk dari orang yang dianggap sebagai pemiliknya (atau dari periode yang dipercayai sebagai masanya jika tidak mungkin menandai pengarangnya) atau jika itu yang dimaksudkan oleh pengarangnya.
Kritik sebagai tahapan yang juga sangat penting terbagi dua, yakni intern dan ekstern. Notosusanto (1971:20) menegaskan hal ini:
Setiap sumber mempunyai aspek intern dan aspek ekstern. Aspek eksternnya bersangkutan dengan apakah sumber itu memang sumber, artinya sumber sejati yang dibutuhkan. Aspek internnya bertalian dengan persoalan apakah sumber itu dapat memberikan informasi yang kita butuhkan. Karena itu, penulisan sumber-sumber sejarah mempunyai dua segi ekstern dan intern.
Kritik ekstern atau kritik luar dilakukan untuk meneliti keaslian sumber, apakah sumber tersebut valid, asli atau bukan tiruan. Sumber tersebut utuh, dalam arti belum berubah, baik bentuk maupun isinya. Dalam penelitian ini, sumber yang digunakan adalah sumber yang berkaitan dengan Kerajaan Arungkeke Abad XVII. Kritik ekstern hanya daapat dilakukan pada sumber yang menjadi bahan rujukan penulis. Disamping itu penulisan ini juga didasarkan pada latar belakang pengarang dan waktu penulisan. Kritik intern atau kritik dalam, dilakukan untuk menyelidiki sumber yang berkaitan dengan sumber masalah penelitian dan penulisan skripsi ini. Tahapan ini menjadi ukuran sejau mana objektifitas penulis dalam mengelaborasi segenap data atau sumber yang telah diperolehnya, dan tentunya mengedepankan prioritas.
Setelah menetapkan sebau teks autentik,serta referensi pengarang, maka penulis akan menetapkan apakah keaslian itu kredibel dan sejauh mana hal tersebut mempengaruhi objek kajian. Pada tahap ini pula kita dapat keabsahan suatu sumber yang kemudian akan dikomparasikan sumber satu dengan sumber yang lainnya, tentunya dengan masalah yang sama.
Interpretasi
Setelah melalui tahapan kritik sumber, kemudian dilakukan interpretasi atau penafsiran terhadap fakta sejarah yang diperoleh dari arsip, buku-buku yang relevan dengan Kerajaan Arungkeke Abad XVII, maupun hasil penelitian langsung dilapangan, diataranya tentang temuan arkeologis dan peninggalan-peniggalan Kerajaan Arungkeke Abad XVII. Tahapan ini menuntut kehati-hatian dan integritas penulis untuk menghindari interpretasi yang subjektif terhadap fakta yang satu dengan fakta yang lainnya, agar ditemukan kesimpulan atau gambaran sejarah yang ilmiah.
Historiografi
Historiografi atau penulisan sejarah merupakan tahapan akhir dariseluruh rangkaian dari metode historis. Tahapan heuristik, kritik sumber,serta interpretasi, kemudian dielaborasi sehingga menghasilkan sebuah historiografi. Menurut Abdullah dkk (1985:15) historiografi dijelaskan sebagai berikut:
Penulisan sejarah merupakan puncak dari segalanya, sebab apa yang dituliskan itulah sejarah yang historice recite, sejarah bagaimana yang dikisahkan. Yang mencoba mengungkap dan memahami historice realite, sejarah sebagaimana yang terjadi dan hasil penulisan inilah yang disebut dengan historiografi.
Sejarawan pada fase ini mencoba menagkap dan memahami realita sejarah. Dalam konteks ini, sejarawan tidak hanya menjawab pertanyaan “apa”, “siapa”, “kapan” dan “bagaimana”, tetapi melakukan eksplanasi secara kritis tentang “bagaimana” dan “mengapa” (Madjid, 2008:59). Pada tahap ini, faka-fakta yang telah dirumuskan atau diinterpretasikan itu selanjutnya dirangkaikan untuk mengungkapkan kisah sejarah yang menjadi topik dalam penulisan skripsi ini secara kronologis dan menjelaskan maknanya. Adapun tujuan dari penulisan yang telah dilakukan yaitu menciftakan kembali totalitas daripada fakta sejarah dengan sesuatu cara yang tidak memperkosa masa lampau yang sesungguhnya.[am]

Related Posts: